Minggu, 13 September 2009

Komunitas and Idealisme Mahasiswa

Sebagai mahasiswa baru, rasa tengsin dong kalo nantinya kita hidup sendiri di dalam kampus alias ga punya komunitas. Dan untuk itu, kita akan dihadapkan pada banyak pilihan komunitas-komunitas yang ada, baik itu gerakan intra/ektra kampus, ataupun kumpulan-kumpulan laennya. Kalo pun ga ada komunitas yang pas, kita bisa ko’ bikin komunitas sendiri. Misalnya aja komunitas baca, pasti berisi orang-orang yang suka baca. Tanpa bermaksud gombal, banyak lho makna yang bisa kita petik dari sebuah komunitas, baik berupa ilmu pengetahuan, kultur, teknologi ataupun salah satu alasan klasik lainnya adalah nambah teman.

Lalu artileri apa saja sih yang dibutuhkan dalam membangun komunitas? Apa cukup hanya dengan punya one thing in common aja, misalnya sama-sama senang makan coklat, ngulum permen karet dan ngemut es krim bareng temen se-geng sambil ngecengin mahasiswa-mahasiswi yang berlalu lalang? Ato sama-sama seneng ngebolak-balik halaman buku setebal 132 halaman trus abisnya didiskusiin rame-rame; kenapa si Rojali tega-teganya ngehianatin cintanya si mideh, hiks. Atau ada alasan laen lagi? Wah kalo dibikin list, setiap kepala pasti bakalan ngasih alesan masing-masing yang satu sama laen beda. Hmm, keningnya mulai berlipat?

Well, selain adanya kesamaan minat dalam bentuk hobi, ternyata kita masih harus memiliki persamaan laennya yang bentuknya abstrak yaitu idealisme. Idealisme merupakan hal yang sangat krusial alias penting banget dalam mewujudkan komunitas impian kita itu. Tanpa idealisme yang jelas, sama aja seperti berlayar di tengah-tengah samudra Indonesia yang terhampar luas tanpa punya tujuan, hendak merapat di dermaga yang mana. Karena dengan idealisme yang jelas dan terarah, kita telah meminimalisir segala bentuk pembelokan atau pun anomali yang nggak penting dan bisa mengancam eksistensi komunitas kita di kemudian hari. Of course dong, kita nggak mau kejadian buruk menimpa kan? So, first thing 1irst, tegaskan dulu warna idealisme kita. Makanya kalo loe mo gabung dengan komunitas yang udah ada, tentu kamu juga bakal dituntut untuk menyesuaikan dengan idealismen yang ada.

Apapun pilihannya, seharusnya bisa ngebantu kita jadi mahasiswa yang ideal dan bisa menjaga idealisme kita. Btw, jadi inget kutipan dalam novel ‘Laskar Pelangi’, saat Andrea Hirata menceritakan salah satu juri karnaval sekolahnya, yaitu. Berikut ini adalah kutipannya : ”… Gengsi ini juga tak terlepas dari integritas para juri yang dipimpin oleh seorang seniman senior yang sudah kondang, Mbah Suro namanya. Mbah Suro adalah orang Jawa, ia seniman Yogyakarta yang hijrah ke Belitong karena idealisme berkeseniannya. Karena sangat idealis maka tentu saja Mbah suro juga sangat melarat.

Kalimat terakhir dari pernyataan itulah yang mengusik pikiran kita. Ya, tentang mempertahankan idealisme. Apakah ada yang salah ketika kita mempertahankan idealisme yang kita miliki? Apakah menjadi idealis selalu berakhir dengan kemelaratan dan kesusahan? Jika memang demikian, untuk apa kita mempertahankan idealisme kita? Seberapa pentingkah mempertahankan idealisme? Apakah idealisme kita akan menjadi sebuah utopia?

Idealisme adalah sebuah cita-cita luhur … sebuah keinginan untuk mencapai sebuah kondisi yang ideal. Idealisme tiap orang dapat berbeda satu sama lain, karena setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda sehingga mereka dapat memiliki definisi yang berbeda-beda pula tentang sebuah kondisi ideal. Sebuah idealisme yang dimiliki oleh seseorang berawal dari masa lalunya, kondisi lingkungannya, agamanya, atau hasil dari interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Disadari atau tidak, sebuah idealisme dapat membimbing perubahan dalam diri atau menuntun tingkah laku seseorang. Karena sedemikian besar pengaruhnya dalam kehidupan seseorang, mahar dari idealisme tentunya tidaklah murah. Seseorang akan sering kali dihadapkan pada kondisi untuk mengambil sebuah keputusan sulit ketika idealismenya berhadapan dengan lingkungan yang jauh berbeda atau bahkan bertentangan.

Entah apakah kita memiliki sebuah idealisme atau tidak. Tapi sebaiknya kita kembali menyimak lagi idealisme yang kita yakini selama ini atau mencoba menemukan idealisme yang belum kita miliki. Jangan sampai kita terjebak pada idealisme semu yang tidak patut kita perjuangkan. Referensi yang dapat kita gunakan untuk mendefinisikan kondisi ideal adalah agama, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Coba kita pahami lagi apakah hakikat di balik penciptaan kita di muka bumi ini. Apakah selama ini kita hidup sesuai dengan hakikat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT? Perhatikan juga kondisi di sekitar kita, kondisi masyarakat dan lingkungan kita. Apakah semuanya sudah berjalan dengan baik dan teratur sesuai dengan tuntunan Islam? Apakah yang dapat kita lakukan untuk memperbaikinya? Dengan memahami hakikat diri, segenap potensi dan kemampuan yang kita miliki, serta kondisi atau permasalahan yang ada di sekitar kita, maka kita akan menemukan definisi kondisi ideal dan membuat turunan-turunannya dalam kehidupan kita.

Mendefinisikan sebuah idealisme itu belum cukup. Idealisme menuntut pengorbanan dan perjuangan. Maka langkah selanjutnya adalah bagaimana kita memperjuangkannya. Luruskan niat, maksimalkan ikhtiar, dan senantiasa tawakal dalam mempertahankan idealisme kita. Tidak perlu takut menjadi melarat atau terasing karena Allah SWT menilai setiap ikhtiar yang kita lakukan dan akan memberikan balasan yang setimpal. Idealisme tidak harus menjadi sebuah utopia melainkan dapat menjadi sebuah keniscayaan. Idealisme, mimpi, dan cita-cita adalah untuk diupayakan bukan hanya untuk di awang-awang.

Selamat berjuang kawan…! Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauhnya.(Soe Hok Gie)



By Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal


0 komentar:

 
Free Blogger Templates